BI: Pembiayaan Syariah Jadi Kunci Strategis Dorong Investasi dan Ekspansi Korporasi
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti usai menyampaikan paparan pada acara penutupan gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2024 di Jakarta Convention Center, Ahad (3/11/2024). Bank Indonesia (BI) mencatat total transaksi bisnis dalam penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival atau ISEF 2024 mencapai Rp1,85 triliun. ISEF 2024 telah sukses menyedot hingga 1.363.645 pengunjung langsung dan 74.747 pengunjung secara daring. BI terus bersinergi dengan pemerintah, otoritas terkait, dan industri guna memperkuat ekonomi dan keuangan syariah yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pejabat Sementara (PJs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan, penguatan konektivitas antara industri halal dan industri keuangan syariah menjadi kunci untuk memperluas akses pembiayaan bagi korporasi, terutama untuk mendukung investasi dan ekspansi industri halal dan keuangan syariah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu disampaikan Destry dalam Forum Strategis Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi bertajuk ‘Unlocking Corporate Growth Through Sharia Finance’ pada Rabu (12/8/2026).
“Pembiayaan syariah perlu menjadi pilihan strategis dan kompetitif bagi investasi dan ekspansi korporasi. Untuk itu, perlu dibangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan, diperkuat pendalaman pasar keuangan syariah dan intermediasi, serta kolaborasi antara korporasi, industri keuangan syariah, regulator, kementerian/lembaga, dan asosiasi,” kata Destry, dikutip dalam keterangan resmi, Kamis (13/8/2026).
Destry juga menekankan pentingnya perluasan kapasitas dan inovasi instrumen pembiayaan untuk mendorong penguatan pembiayaan korporasi. Hal penting lainnya yang ia tekankan adalah ihwal penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan pemantauan untuk memperkuat pembiayaan korporasi.
Dijelaskan bahwa momentum perluasan pembiayaan syariah didukung kinerja industri yang terus meningkat. Data menunjukkan, pada Juni 2026, pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp 720 triliun atau tumbuh 11,43 persen secara tahunan/year on year (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 816 triliun atau tumbuh 13,13 persen (yoy).
Di sisi dunia usaha, pada periode yang sama, rantai pasok halal tumbuh 5,5 persen dan outstanding sukuk korporasi mencapai sekitar Rp 95 triliun. “Perkembangan tersebut membuka ruang yang semakin besar bagi pembiayaan syariah untuk mendukung investasi produktif dan ekspansi sektor riil,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Ekonomi Syariah Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Titi Khoiriah menyampaikan pentingnya pembiayaan syariah jangka panjang dengan skema dan tenor yang sesuai untuk mendukung ekspansi korporasi.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo/Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Bob Tyasika Ananta juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis ekosistem yang menghubungkan korporasi dengan rantai pasok. Pendekatan tersebut dinilai memungkinkan perbankan syariah memperluas pembiayaan untuk modal kerja, sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan dunia usaha.
BI bersama seluruh pemangku kepentingan melalui program ‘Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia’ memastikan terus memperkuat sinergi untuk memperluas akses pembiayaan dan mempercepat realisasi pembiayaan syariah ke sektor riil. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran pembiayaan syariah dalam mendukung investasi dan ekspansi usaha, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

