Uncategorized

Ramadhan dan Jualan Makanan Gratis

Oleh Saifuddin A. Rasyid

Ramadhan tetap berkah bagi pengelola MBG (makanan bergizi gratis). 

Meskipun tadinya sempat agak gamang setelah mendapat tantangan dan kritikan dari masyarakat sipil. Karena dipandang tidak sejalan dengan nilai pendidikan dalam suasana puasa, khususnya bagi umat Islam.

Pasalnya dewan gizi nasional (DGN) awalnya berpandangan proyek MBG tetap jalan seperti biasa walau Ramadhan. Yang puasa dipersilahkan tidak makan atau paketnya dibawa pulang. Tapi bagi yang tak puasa silahkan makan sembunyi sembunyi.

Tapi setelah ditemukan penyesuaian format distribusi MBG bagi empat kelompok penerima — siswa mayoritas muslim, siswa mayoritas non muslim, santri pondok pesantren, dan kelompok rentan — maka ribut ribut tampak dapat dikurangi. 

Intinya 20 ribu dapur SPPG tetap berasap untuk tujuan pemenuhan gizi nasional dengan anggaran 2026 sebesar minimal Rp 335 triliun atau rerata Rp 1 triliun perhari.

Gizi atau Racun?

Saya bukan orang kaya tapi juga tidak masuk dalam daftar penerima LBT di desa saya. Tapi saya sering ikut menikmati makanan MBG. Soalnya dua cucu kami, satu TK satu SD di Banda Aceh, sering bawa pulang jatah MBG ke rumah. Soalnya guru mereka suruh bawa pulang jatahnya karena sering tidak dimakan di sekolah.

Dari yang saya makan, rasa dan kualitasnya relatif. Tapi tidak ada racunnya. Walau perasaan waswas tetap ada karena tersebar berita MBG beracun di beberapa daerah di tanah air.

Sejalan dengan tujuan proyeknya, MBG itu bergizi. Indikator kualitas pasti sudah disusun. Ada ahli gizinya segala. Ada juga monevnya. Tapi mengapa beracun? Bila betul ada, itu berarti kecolongan. 

Atau ada kemungkinan sabot? Tidak tahu kita. Pastinya seyogianya ada langkah konkrit untuk meredam isu itu secara bijak, asal tidak dengan cara mengecilkan. Soalnya ini menyangkut kesehatan — baka nyawa — anak bangsa.

Dalam nafas pelaksanaan proyek di negara kita seringkali ada denyut yang bergerak liar. Kita sudah terbiasa memberi ruang proyek menguap. Ada space of erornya yang seringkali pada akhirnya dimaafkan.

Maka misalnya ketika ada jalan segera berlobang setelah diaspal, jembatan patah sebelum waktunya, gedung retak sebelum gempa, spek tidak sesuai dan sebagainya itu batin kita dapat menerima. Karena adanya penyimpangan dan korupsi dalam pelaksanaan proyek di lingkungan kita itu lumrah.

MBG adalah proyek. Sebagaimana proyek lainnya di tanah air tentu ada space of acceptance yang bagi kita sah dapat kita terima bila terjadi tak sesuai indikator di lapangan. Karena rantai pelaksana panjang dan juga melibatkan banyak orang dan kepentingan. 

Kita toleran. Kita paham keadaan dan “target” lapangan. Tapi kalau sampai ada racun dalam makanan itu sulit kita bayangkan. Goyang juga kita.

Singkatnya MBG itu gizi. Yaitu sesuai yang diniatkan pemerintah adalah untuk meningkatkan gizi rakyat, mencegah stunting, meningkatkan kesehatan warga negara, membuka lapangan kerja, meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat, mendorong Indonesia maju, dan lainnya. 

Tetapi proyek MBG dalam jangka panjang boleh jadi dapat menjadi racun bagi kemandirian rakyat. Setidaknya demikian yang dijelaskan oleh para ahli dan kritikus.

Rakyat akan kehilangan kesempatan memilih pola gizi dan momentum pemberdayaan kesehatan masyarakat yang dapat mereka bangun sendiri dari sumber pangan mandiri dan lokal bila terlalu berharap pada MBG. Pada saat yang sama institusi dan aparatur kesehatan kembali ke barak menyesuaikan spirit pelayanan dan atau pembangunan bidang kesehatan dengan efisiensi yang dialihkan.

Bidang pendidikan juga menjerit karena alasan yang sama. Setelah sebagian anggaran bidang ini dipompa ke MBG, inovasi di setiap lini bidang pendidikan harus kembali ke format minimalis yaitu agar proses belajar mengajar dapat berlangsung saja.

Kritikus Malika Dwi Ana (15 Februari 2026) misalnya menyebut placement dana negara dari APBN masuk langsung ke Badan Gizi Nasional dan perputaran melalui setidaknya tujuh atau delapan layer tanpa pengawasan ketat sebelum sampai ke rakyat dalam bentuk produk MBG bekerja bagaikan mesin pencucian uang untuk tujuan tertentu yang berbahaya. 

Sistem seperti ini bila tidak dievaluasi cepat akan menjadi racun dalam sistem pembiayaan pembangunan negara. Kecuali segera ada langkah pemerintah untuk melihat celah yang mungkin akan menjadikan situasi sebaliknya.

Keperdulian Sosial

Bisnis makanan bergizi gratis sedianya muncul di tengah masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial untuk membantu kalangan masyarakat tertentu menjangkau makanan bergizi secara gratis. 

Di Bogor misalnya ada komunitas Partners In Goodness (PING) sejak 2018 menjalankan bisnis Warung BARU, makan bergizi bayar seribu.

Komunitas yang dikomandani aktifis Uthie Susianto ini awalnya membuka layanan makan siang gratis bagi warga berkekurangan di Bogor. Tetapi tak banyak warga yang makan atau setidaknya tak balik lagi pada kesempatan lain. Alasan mereka — setelah dikaji ternyata — enggan karena gratis. Rupanya tak semua orang kecil tak punya harga diri.

Akhirnya strateginya diubah. Makan, bayar seribu rupiah. Alasan psikologisnya adalah tetap ada transaksi dan kontribusi untuk makanan yang disajikan. Walau seribu rupiah. Bagi yang benar benar sulit tetap dilayani dengan gratis. Bisnis ini mendapat respon baik dan viral.

Gagasan melayani makanan gratis seperti ini memiliki akar yang kuat dalam Islam. 

Al-Quran surat Al-Ma’un ayat 3 misalnya melepaskan ancaman status pendusta agama bagi orang yang mengedepankan inisiatif pemberian makanan untuk orang miskin. Makanan gratis.

Ayat ini tentu seyogianya dipahami secara luas. Yakni dari menyediakan makanan siap saji sampai mendampingi kaum miskin untuk menemukan akses terhadap sumber ekonomi yang memungkinkan mereka terlepas dari cengkeraman kemiskinan. 

Dalam pemberdayaan masyarakat pesan ayat ini diterjemahkan secara operasional kedalam konsep pendampingan sosial. Yaitu mencakup secara komprehensif memastikan tercukupinya kebutuhan dasar selaku manusia (basyariyah) sampai terpenuhi kesempurnaan harapan hidup level tertentu manusia (insaniyah). 

Akses terhadap tahapan pencapaian kedua kutub itu seperti pandangan Maslow  menjadi hal yang sangat sesuai diperhatikan ketika program makan gratis bagi kaum berkebutuhan tertentu dilakukan.

Jadi tak mengunci orang dalam ketergantungan pangan. Tetapi memberi peluang dan ruang yang cukup untuk mereka mandiri dan mencapai kebahagiaan dengan membangun kehidupan mereka secara terampil dan dari sumber daya mereka sendiri. 

Saat Ramadhan Tiba

Jualan makanan gratis sangat relevan dilakukan selama Ramadhan. Yaitu ketika umat Islam sedang dalam proses tempaan menahan diri terutama dari makan dan minum serta hal lain yang membatalkan puasa.

Berbeda dengan MBG dimana makanan dijual kepada negara atas nama rakyat, paket makanan gratis umat dalam bulan Ramadhan dijual langsung kepada Allah Taala. 

Banyak kelompok rentan dari kalangan fakir dan miskin menjadi captive market dari bisnis makanan gratis umat ini. Terutama kelompok masyarakat yang tak terjangkau dan tak menjadi target MBG.

Mumpung masih di awal Ramadhan mungkin baik mempertimbangkan jualan makanan gratis ini, sebulan penuh. Langsung jual kepada Allah. Penerima manfaat terutama kalangan kaum fakir dan miskin dari karib kerabat dan kaum tak berpunya.

Ketika Allah beli dan manfaat dirasakan oleh hambaNya yang beriman, maka tentu saja Allah membayar dengan iradahNya.

Hamba hamba yang setia kepada Allah dan RasulNya seyogianya mengambil kesempatan berbisnis makanan gratis dengan Allah dalam bulan mulia ini.

Wallahu a’lam

(Penulis adalah Imam Meunasah Barabung Darussalam Aceh Besar)

https://www.alrasyid.id/2026/02/utamakan-ukhuwah-ketimbang-perbedaan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *