Perbankan Syariah

BI Perkuat Kolaborasi Global untuk Bangun Ketahanan Keuangan Syariah

  • Irawati

Poin Penting

  • Aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp3.264 triliun pada Juni 2026, tumbuh hampir 10% secara tahunan.
  • BI mendorong pendalaman pasar keuangan syariah, perluasan pembiayaan UMKM, dan penguatan likuiditas.
  • Kolaborasi global diperlukan untuk mengantisipasi risiko keuangan lintas negara dan mendukung inovasi digital yang bertanggung jawab.

Bank Indonesia (BI) memperkuat kolaborasi global untuk meningkatkan ketahanan keuangan syariah dan memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian riil. Upaya ini dilakukan melalui pendalaman pasar keuangan syariah domestik dan perluasan kerja sama lintas negara untuk mengantisipasi risiko keuangan yang semakin kompleks dan saling terhubung.

Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro mengatakan, BI bersinergi dengan mitra strategis untuk memperdalam pasar uang dan pasar modal syariah, memperluas akses pembiayaan produktif bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperkuat rantai nilai halal.

Penguatan pasar domestik dan kolaborasi global diharapkan membuat keuangan syariah lebih tangguh menghadapi risiko. Langkah ini juga diharapkan memperluas peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Aset Keuangan Syariah Tumbuh Hampir 10 Persen

Solikin mencatat, perkembangan keuangan syariah Indonesia menunjukkan potensi yang besar, dengan total aset mencapai Rp3.264 triliun pada Juni 2026 atau tumbuh hampir 10 persen secara tahunan. Meski demikian, pangsa pasar perbankan syariah masih sekitar 7 persen, menunjukkan ruang untuk penguatan peran keuangan syariah dalam mendukung kegiatan ekonomi produktif.

“Kita memiliki peluang untuk membangun regulasi yang kuat, tata kelola syariah, dan infrastruktur pasar sejak awal. Di sisi lain, negara dengan pasar syariah yang telah maju juga dapat berbagi pengalaman sekaligus terbuka terhadap gagasan baru,” ujar Solikin.

Ia juga menekankan pentingnya ketersediaan likuiditas bagi stabilitas keuangan syariah, terutama saat pasar tertekan. Untuk itu, diperlukan pendalaman pasar sekunder sukuk, mekanisme pembentukan harga yang kredibel, pengaturan repo syariah, serta fasilitas likuiditas darurat yang sesuai dengan prinsip syariah.

Dalam hal ini, BI terus memperkuat pasar domestik melalui instrumen keuangan syariah SukBI dan SUVBI serta pengembangan pasar uang antarbank syariah. Sebagai anggota pendiri IILM, Indonesia juga mendukung perluasan basis investor untuk memperdalam likuiditas syariah lintas negara.

Solikin menekankan pembelajaran penting bahwa ketahanan tidak dapat dibangun setelah guncangan terjadi, melainkan ketahanan harus sudah terbangun sebelum terjadinya guncangan.

BI Dorong Inovasi Digital yang Bertanggung Jawab

Solikin mengatakan, penguatan likuiditas juga perlu diiringi inovasi yang bertanggung jawab. Inovasi digital, termasuk sukuk yang ditokenisasi (tokenised sukuk), berpotensi meningkatkan efisiensi dan memperluas akses keuangan syariah, yang perlu didukung tata kelola yang kuat, kepastian hukum, dan manajemen risiko yang efektif.

“Keuangan syariah dapat terus tumbuh, tetapi besarnya aset tidak menjamin ketahanannya menghadapi guncangan. Risiko keuangan, kebutuhan likuiditas, dan perkembangan inovasi digital melintasi batas negara sehingga tidak dapat diatasi oleh satu institusi atau negara saja. Karena itu, kolaborasi global perlu terus diperkuat untuk membangun ketahanan keuangan syariah yang berkelanjutan,” ujarnya.

IFSB Soroti Peluang Teknologi dan Pengelolaan Risiko

Sekretaris Jenderal IFSB Dr. Ghiath Shabsigh menekankan, industri keuangan syariah berada pada titik penting yang menuntut kemampuan mengelola risiko sekaligus memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan nasabah.

“Inovasi seperti kecerdasan artifisial (AI), pemanfaatan data berskala besar, dan instrumen keuangan hibrida dapat memperluas jangkauan layanan serta meningkatkan dampak ekonomi dan sosial,” ucapnya.

Ia juga menyoroti bahwa Indonesia telah membangun fondasi yang kuat dalam pengembangan keuangan syariah, dan Indonesia memiliki potensi besar sebagai salah satu perekonomian utama dunia. Hal ini didukung upaya bank sentral dalam mengembangkan industri, menyediakan fasilitas likuiditas, dan membangun infrastruktur pasar keuangan syariah. 

Ke depan, kolaborasi global perlu terus diperkuat untuk dalam menghadapi risiko yang semakin kompleks dan saling terhubung. Bank Indonesia akan terus menjalin sinergi dengan mitra global untuk memperkuat fondasi bagi keuangan syariah tetap tangguh menghadapi gejolak dan mendorong produktivitas ekonomi kerakyatan nasional. (*)

https://infobanknews.com/bi-perkuat-kolaborasi-global-untuk-bangun-ketahanan-keuangan-syariah

Leave a Reply