Sahabat Nabi Bergelar Aminul Ummah, Ketakwaannya Jadi Sebab Turunnya QS Al-Mujadalah Ayat 22
- Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Nabi Muhammad SAW.
- Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Di dalam khasanah sejarah Islam, tertulis kisah seorang yang tepercaya, bijak dan hidupnya zuhud, yaitu Aminul Ummah (Kepercayaan Umat) bernama Abu Ubaidah Radhiyallahu’anhu.
Abu Nu’aim Al Ashfahani dalam Hilyatul Auliya menerangkan, mengenai sahabat Nabi Muhammad SAW ini, turun ayat Alquran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ وَاَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ ۗوَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ
Lā tajidu qaumay yu’minūna billāhi wal-yaumil ākhiri yuwāddūna man ḥāddallāha wa rasūlahū wa lau kānū ābā’ahum au abnā’ahum au ikhwānahum au ‘asyīratahum, ulā’ika kataba fī qulūbihimul-īmāna wa ayyadahum birūḥim minh(u), wa yudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā, raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anh(u), ulā’ika ḥizbullāh(i), alā inna ḥizballāhi humul-mufliḥūn(a).
“Engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan di dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.”(QS Al-Mujadalah Ayat 22)
Diriwayatkan, Abu Ubaidah bersabar pada kehidupan yang berkekurangan hingga saatnya perjalanan menuju akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap umat itu memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” (HR Imam Bukhari)
Pada Perang Badar, Abu Ubaidah bin Jarrah menghadapi ujian yang sangat berat. Ayahnya sendiri berada di barisan kaum Quraisy yang memerangi kaum Muslimin. Abu Ubaidah semula berusaha menghindari ayahnya dan tidak ingin berhadapan dengannya. Namun, ketika sang ayah terus menghadang dan menyerangnya, Abu Ubaidah akhirnya terpaksa menghadapinya dalam pertempuran hingga ayahnya terbunuh. Kemudian turunlah Firman Allah SWT (QS Al-Mujadalah Ayat 22)
Abu Ubaidah bin Jarrah berjalan di tengah pasukan dan berkata, “Ketahuilah, banyak orang yang memutihkan pakaiannya tetapi mengotori agamanya. Ketahuilah, banyak orang yang memuliakan dirinya tetapi sejatinya dia menghinakan dirinya. Tutupilah dosa-dosa yang lama dengan kebaikan-kebaikan yang baru. Seandainya salah seorang di antara kalian melakukan dosa yang tinggi antara dia dan langit kemudian dia melakukan suatu kebaikan, niscaya kebaikan itu menempati di atas dosa-dosanya hingga mengalahkannya.”
Abu Ubaidah jadi gubernur miskin
Gubernur Muslim yang terkenal zuhud dan miskin bernama Abu Ubaidah bin Jarrah Radhiyallahu anhu. Abu Ubaidah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Makkah yang termasuk paling awal memeluk agama Islam.
Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Nabi Muhammad SAW. Abu Ubaidah mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam, dia juga menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya.
Dikisahkan Hisyam bin ‘Urwah saat Abu Ubaidah menjabat sebagai Gubernur Syam. Suatu ketika Umar bin Khattab yang menjadi Khalifah mendatangi negeri Syam. Kedatangannya tersebut disambut oleh para pemimpin dan pejabat negara.
Khalifah Umar bertanya, “Di manakah saudaraku?” Mereka menjawab, “Siapakah dia?” Umar menjawab lagi, “Abu Ubaidah.” Lalu mereka menjawab, “Dia akan datang kepadamu sekarang.”
Dalam waktu yang tidak lama, datanglah Abu Ubaidah sambil menaiki seekor unta yang hidungnya diikat oleh tali. Dia mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab, kemudian berkata kepada orang-orang, “Tinggalkanlah kami.”
Maka Umar bin Khattab berjalan bersama Abu Ubaidah hingga tiba di rumahnya. Ternyata di dalam rumah Abu Ubaidah tersebut, Umar bin Khattab tidak mendapati barang apapun kecuali pedang, perisai, dan pelana kuda. Karena itu, Umar bin Khattab yang menjabat sebagai Khalifah berkata, “Mengapa kamu tidak mengumpulkan harta?”
Abu Ubaidah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya barang-barang ini yang bisa mengantarkan kami ke akhirat dengan selamat.”
Dalam riwayat lain, Abu Ubaidah berkata kepada Umar bin Khattab, “Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.”
Sebab Umar bin Khattab mendapati rumah Abu Ubaidah sebagai Gubernur Syam kosong melompong, tanpa perabotan mewah.

