Bijak Mengelola THR agar Keuangan Tetap Stabil Setelah Lebaran
- Mengatur THR dengan strategi sederhana dapat membantu menjaga stabilitas keuangan.
- Red: Friska Yolandha
Setiap menjelang Lebaran, suasana rasanya berbeda. Ada semangat baru, rumah mulai dibersiGaya hidup modern sering membuat kita mudah terpengaruh. Media sosial penuh dengan inspirasi hampers cantik, pakaian seragam keluarga, dekorasi rumah estetik, hingga rekomendasi mudik nyaman.
Tanpa sadar, standar perayaan menjadi terasa lebih tinggi. Padahal, esensi Lebaran bukan pada seberapa mewah tampilannya, melainkan pada kehangatan kebersamaan. Mengatur porsi belanja dengan sadar membantu kita tetap menikmati tren tanpa harus membayar dengan stres finansial setelahnya.
Vivin Arbianti Gautama, Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah mengatakan THR sebaiknya kita maknai sebagai rezeki yang dititipkan sehingga perlu dikelola dengan tujuan yang jelas. Setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi prioritas: ibadah seperti zakat dan berbagi, kebutuhan Lebaran, kebutuhan masa depan melalui tabungan atau investasi, serta proteksi keluarga.hkan, daftar belanja disusun, grup keluarga makin ramai, dan tentu saja notifikasi Tunjangan Hari Raya (THR) yang ditunggu-tunggu. THR sering terasa seperti hadiah kecil setelah setahun bekerja keras.
Wajar jika rasanya ingin langsung merayakan dengan belanja berbagai keperluan. Namun, di tengah perayaan itu ada satu hal yang sering terlupakan, yakni setelah Lebaran usai, hidup tetap berjalan seperti biasa.
Mengelola THR sebenarnya bukan soal berhemat atau menahan diri. Hal ini lebih tentang menjaga keseimbangan. Lebaran memang momen spesial, sehingga tidak ada yang salah dengan membeli baju baru, menyiapkan hidangan favorit keluarga, atau pulang kampung dengan nyaman.
Mengalokasikan sebagian THR untuk belanja Lebaran itu penting karena momen ini datang hanya setahun sekali. Namun, ketika semuanya terasa perlu untuk dibelanjakan, kita perlu jeda sejenak dan bertanya: apakah ini kebutuhan atau sekadar keinginan sesaat?
Gaya hidup modern sering membuat kita mudah terpengaruh. Media sosial penuh dengan inspirasi hampers cantik, pakaian seragam keluarga, dekorasi rumah estetik, hingga rekomendasi mudik nyaman.
Tanpa sadar, standar perayaan menjadi terasa lebih tinggi. Padahal, esensi Lebaran bukan pada seberapa mewah tampilannya, melainkan pada kehangatan kebersamaan. Mengatur porsi belanja dengan sadar membantu kita tetap menikmati tren tanpa harus membayar dengan stres finansial setelahnya.
Vivin Arbianti Gautama, Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah mengatakan THR sebaiknya kita maknai sebagai rezeki yang dititipkan sehingga perlu dikelola dengan tujuan yang jelas. Setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi prioritas: ibadah seperti zakat dan berbagi, kebutuhan Lebaran, kebutuhan masa depan melalui tabungan atau investasi, serta proteksi keluarga.
Perencanaan keuangan bukan hanya soal mengumpulkan uang, tetapi juga melindungi apa yang sudah dikumpulkan. Jika pencari nafkah tiba-tiba tidak dapat bekerja, tabungan bisa cepat terkuras. Karena itu, mengalokasikan sebagian THR untuk perlindungan keluarga adalah bentuk tanggung jawab dan ikhtiar kita untuk menjaga dari risiko.
Gaya hidup modern sering membuat kita mudah terpengaruh. Media sosial penuh dengan inspirasi hampers cantik, pakaian seragam keluarga, dekorasi rumah estetik, hingga rekomendasi mudik nyaman.
Tanpa sadar, standar perayaan menjadi terasa lebih tinggi. Padahal, esensi Lebaran bukan pada seberapa mewah tampilannya, melainkan pada kehangatan kebersamaan. Mengatur porsi belanja dengan sadar membantu kita tetap menikmati tren tanpa harus membayar dengan stres finansial setelahnya.
Vivin Arbianti Gautama, Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah mengatakan THR sebaiknya kita maknai sebagai rezeki yang dititipkan sehingga perlu dikelola dengan tujuan yang jelas. Setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi prioritas: ibadah seperti zakat dan berbagi, kebutuhan Lebaran, kebutuhan masa depan melalui tabungan atau investasi, serta proteksi keluarga.
Perencanaan keuangan bukan hanya soal mengumpulkan uang, tetapi juga melindungi apa yang sudah dikumpulkan. Jika pencari nafkah tiba-tiba tidak dapat bekerja, tabungan bisa cepat terkuras. Karena itu, mengalokasikan sebagian THR untuk perlindungan keluarga adalah bentuk tanggung jawab dan ikhtiar kita untuk menjaga dari risiko.
“Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang memastikan keluarga tetap aman dan tenang setelah perayaan berlalu,” ujarnya melalui keterangan, Selasa (10/3/2026).
Vivin mengingatkan bahwa kestabilan keuangan merupakan bagian dari rasa aman yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat terasa dampaknya. Menurutnya, ada strategi sederhana yang bisa diterapkan untuk mengatur keuangan menjelang Lebaran, yaitu dengan formula 50–30–20 (50 persen dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran termasuk zakat, 30 persen untuk masa depan dan tabungan, serta 20 persen untuk perlindungan finansial seperti dana darurat maupun asuransi).
Pengaturan ini bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Namun, prinsip utamanya tetap sama, yakni menikmati momen saat ini tanpa melupakan pentingnya mengamankan masa depan.
THR dapat menjadi momen untuk mengevaluasi kondisi finansial. Setelah beberapa bulan menjalani rutinitas pengeluaran, Lebaran adalah waktu yang tepat untuk memperkuat tabungan atau dana darurat. Ada rasa aman ketika kita tahu keluarga memiliki cadangan jika terjadi hal tak terduga, sebagai bentuk cinta nyata kita. Ketenangan seperti ini sering kali lebih berharga daripada barang baru yang hanya memberi kepuasan sementara.
Bagi yang sudah mulai melek finansial, menyisihkan sebagian THR untuk investasi juga bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih tenang. Bukan berarti harus langsung besar, tetapi konsisten. THR bisa menjadi modal awal atau tambahan untuk aset jangka panjang.
Rasanya berbeda ketika kita sadar bahwa sebagian dari uang tersebut sedang bekerja untuk masa depan, entah itu untuk pendidikan anak, rencana liburan berikutnya, atau kebebasan finansial yang memperluas produktivitas.
Tentu saja, Lebaran juga tentang berbagi. Menyisihkan sebagian THR untuk zakat dan sedekah memberi makna lebih dalam pada perayaan. Ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli ketika kita tahu rezeki yang kita terima juga membawa manfaat bagi orang lain. Ini bukan hanya tentang kewajiban, tetapi tentang nilai yang ingin kita tanamkan dalam keluarga bahwa rezeki terbaik adalah yang juga dibagikan.
Pada akhirnya, mengelola THR adalah bagaimana kita mengoptimalkan dana tersebut untuk berbagai kebutuhan tanpa mengorbankan kestabilan setelahnya. Kita tetap bisa tampil rapi, rumah tetap nyaman, dan meja makan tetap terisi tanpa harus merasa cemas saat melihat saldo rekening pada awal bulan berikutnya. Sebab, Lebaran yang sesungguhnya bukan tentang seberapa banyak yang kita keluarkan, melainkan seberapa lapang hati kita saat menjalaninya.
Untuk melindungi keluarga tercinta, Prudential Syariah merekomendasikan produk PRUCinta untuk keluarga sebagai asuransi jiwa syariah yang memberikan perlindungan finansial jangka panjang terhadap risiko meninggal dunia, termasuk santunan lebih besar jika terjadi karena kecelakaan, sebagai bentuk dukungan dana bagi keluarga.
PRUCinta memberikan manfaat santunan meninggal dunia dari Dana Tabarru yang lebih optimal selama 20 tahun dengan pembayaran kontribusi selama 10 tahun. Produk ini juga menawarkan manfaat jatuh tempo berupa nilai tunai dari Dana Nilai Tunai yang dimaksimalkan setara 100 persen kontribusi yang telah dibayarkan jika tidak ada klaim selama masa kepesertaan.
Selain itu, untuk memberikan ketenangan pikiran, PRUCinta juga memberikan manfaat tiga kali santunan asuransi meninggal akibat kecelakaan serta empat kali santunan asuransi meninggal dari Dana Tabarru sesuai ketentuan polis, jika insiden tersebut terjadi dalam periode enam pekan sejak tanggal 1 Ramadan yang ditetapkan pemerintah.

